Detil Berita

Home /Berita Sekolah/Detil Berita
1411

PENDIDIKAN KARAKTER JADIKAN SISWA BERAKHLAK MULIA


Pakar pendidikan Prof Arief Rachman mengatakan, pengembangan pendidikan berkarakter di Indonesia bertujuan mewujudkan peserta didik yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, cerdas, bertanggung jawab, dan demokratis. "Pendidikan di sekolah harus dikembalikan pada kepentingan pembentukan akhlak mulia dan budi pekerti," kata Arief Rachman 

Pendidikan yang sukses, menurut Arief yang juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, adalah pendidikan yang mampu mengantarkan siswa menjadi anak bertakwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, serta mempunyai rasa kebangsaan dan berwawasan global.

Karena itu, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 19 Juni 1942, itu menyayangkan banyaknya guru yang masih menekankan pembelajaran pada aspek kognitif (ilmu pengetahuan) dan kurang menekankan pada aspek afektif (sikap). Hal tersebut mengakibatkan pembinaan akhlak mulia dan budi pekerti belum tercapai dengan sempurna. Dia menyebut kecenderungan sifat guru yang stabil dan tidak stabil.

"Jadilah guru yang berhati tenang dan sejuk, bersemangat, gembira dan hangat. Guru itu harus hati-hati, tenggang rasa, damai, terkendali, dapat dipercaya dan emosinya seimbang. Ia juga harus optimistis, aktif, bermasyarakat, berorientasi gembira, pemimpin yang merdeka, fleksibel dan memahami perbedaan, dan senang berkomunikasi," katanya.

Sebaliknya, lanjut dia, jangan menjadi guru yang dingin, gampang sedih, atau malah gampang bergejolak dan panasan. Guru tidak boleh gampang murung, tegang, tidak bersemangat, penuh perhitungan, kaku, dingin, pendiam, pasif, perasa, tidak tenang, agresif negatif, dan berubah-ubah.

Di sisi lain, katanya, pola asuh orang tua juga menentukan pembentukan karakter dan akhlak anak. Orang tua yang menerapkan pola asuh suri tauladan akan lebih baik ketimbang pola asuh yang otoriter, melindungi, dan membebaskan anak.

Perilaku orang tua yang memberi suri tauladan akan menghasilkan anak yang hormat kepada orang tua, senang berdiskusi, berkesadaran tujuan hidup, merasa diperlukan, dan memiliki tempat bertanya. Selain itu, kata Arief, memberi suri tauladan akan membentuk anak menjadi mudah bersosialisasi, berprinsip, dewasa, dan mampu menjaga nama baik keluarga.

Sumber : news.okezone.com


Kembali
  • prakerin

Kontak Kami

Silakan kontak kami secara online, kami siap membantu segala pertanyaan, hal-hal lain yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.


Read more